Dinar The Real Money

Dinar The Real Money Blog : "Dinar Emas, Uang dan Investasiku"

Selamat Datang di MITRA DINAR BANDUNG

Selamat Datang di MITRA DINAR BANDUNG

Kami melayani pembelian dan penjualan koin emas dinar dan koin perak dirham untuk wilayah Cimahi khususnya .Kami pun menyediakan berbagai artikel yang berkaitan dengan perkembangan dinar dan dirham, Informasi pengguna M-Dinar, informasi penawaran dinar less 1 persen dan less 2 persen. Kami tidak melakukan jual beli dinar berupa mata uang kertas.



Dinar adalah mata uang berupa koin yang terbuat dari emas dengan kadar 22 karat (91,7 %) dan berat 4,25 gram. Dirham adalah mata uang yang terbuat dari Perak Murni dengan berat 2,975 gram. Dinar dan Dirham adalah mata uang yang dipakai pada zaman Rasulullah SAW . Pada era kekhalifahan Umar bin Khatab, ditetapkan bahwa Dinar dan Dirham memiliki standart seperti tersebut diatas. Di Indonesia, Dinar dan Dirham diproduksi oleh Logam Mulia, unit bisnis dari PT Aneka Tambang, Tbk, dan disertai Sertifikat setiap kepingnya. Keaslian dan keakuratan berat dan kadarnya telah diuji dan disertifikasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional) dan oleh LBMA (London Bullion Market Association).

Sebelum Harga Beras Naik 500%

Posted by Unknown

Jaringan teman-teman lama saya di pusat asuransi dan risk management dunia – Lloyd’s of London, hingga kini masih rajin mengirimi saya update tentang berbagai hal. Yang menarik saya adalah kiriman terakhir dari laporan sejumlah pakar manajemen resiko disana yang diberi judul Food System Shock. Para pakar ini bekerja berdasarkan data statistik utamanya, kemudian memadukannya dengan perkembangan terakhir yang terkait perubahan iklim, geopolitik, dan tentu juga kondisi ekonomi dunia akhir-akhir ini. Dari risk modeling yang mereka buat, mereka sampai berkesimpulan harga beras dunia bisa naik sampai 500% !

Laporan singkat – hanya 28 halaman ini mestinya menjadi rujukan para pengambil keputusan di negeri ini juga. Meskipun mereka para ahli di bidangnya, harus diakui mereka juga sering keliru dalam memperkirakan suatu kejadian resiko. Tetapi juga tidak kalah sering munculnya kejadian yang sangat mirip dengan risk modeling mereka.

Ketika akhir 90-an mereka mengingatkan dunia tentang resiko Genetically Modified Organism (GMO) misalnya, resiko tersebut kini bener-bener menghantui dunia pangan. Demikian pula dengan risk modeling di resko gempa bumi, banjir, perubahan iklim dlsb. banyak yang kemudian terbukti sangat dekat dengan kejadian yang sesungguhnya di kemudian hari.

Nah ringkasan dari laporan yang saya sebutkan di atas, tersaji dalam gambar dibawah.



















































Food Schock Scenario by Lloyd's of London
 

Harga beras tidak ujug-ujug naik, sejumlah kejadian global saling mempengaruhi satu sama lain. Dampak dari serangkaian kejadian ini harga gandum, jagung dan kedelai diperkirakan bisa naik empat kalinya. Setelah itu baru harga beras yang akan terpukul paling parah – yaitu naik sampai 5 kalinya atau 500 % !

Mengapa ini bisa terjadi ? Kita tahu dua negara berpenduduk paling banyak di dunia yaitu China (1.39 milyar jiwa) dan India (1.26 milyar jiwa) keduanya adalah bangsa pemakan beras. Ketika produksi beras dunia turun sedikit saja – dalam skenario turun 7 % - ditengah jumlah penduduk dunia yang terus bertambah, maka dunia akan berebut beras secara luar biasa. Saat itulah harga beras akan meroket hingga bisa lebih dari 500 %.

Worst case scenario semacam ini tentu bukan bermaksud menakut-nakuti kita, tetapi sebaliknya justru agar kita lebih siap dalam mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk semacam ini. Lantas apa yang bisa kita lakukan ?

Meskipun masih terus makan beras, ada baiknya kita mulai membiasakan jenis-jenis makanan lain yang utamanya tidak menjadi objek perebutan dunia seperti beras tersebut. Atau kalau toh kita masih sangat suka makan beras dan belum mau makan makanan lainnya, negeri ini harus bener-bener berupaya maksimal untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Sebab kalau kita harus impor, sangat bisa jadi kita akan kalah berebut dengan China dan India tersebut di atas – ketika ada gangguan produksi beras dalam skala global.

Sumber  makanan lain seperti kurma,  sukun (bread fruit) dan pisang  menurut saya bisa menjadi kuda hitam dalam penyediaaan bahan pangan alternatif, bila bahan makanan dunia terganggu supply -nya.

Untuk kurma jelas karena ada di hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa rumah yang ada kurmanya tidak akan kelaparan, insyaAllah kurma bisa menjadi strategi yang jitu untuk mencegah kelaparan dunia.

Sukun dan pisang selain mudah ditanam di negeri ini di tanah tegalan sekalipun, keduanya bisa menjadi sumber tepung yang kaya gizi. Kalau sudah menjadi tepung, selain awet disimpan juga bisa menjadi produk olahan makanan apa saja.

Selain dampaknya terhadap penyediaan bahan pangan alternatif, kurma, sukun dan pisang adalah jenis tanaman-tanaman yang membantu mengelola air secara efektif , menurunkan suhu udara lingkungannya serta memperbaiki kwalitas udara.

Lagi-lagi ini seperti sekali merangkuh dayung, dua tiga pulau terlewati. Sambil kita mengantisipasi gejolak harga bahan pangan dunia – kita juga menjaga kebutuhan dasar lainnya yaitu air dan udara. InsyaAllah.

Food 2.0 : Daging Analog

Posted by Unknown

Ketika dunia sedang berpacu menghasilkan pangan berteknologi tinggi untuk mengatasi kemahalan harga pangan khususnya daging, televisi di Indonesia pekan lalu menghebohkan masyarakat dengan kasus pemalsuan daging bakso dengan daging celeng. Masalahnya sama yaitu mahalnya harga daging, reaksi mengatasinya yang berbeda – yang satu mengatasinya dengan ilmu pengetahuan, yang satu mengatasinya dengan nafsu keserakahan. Di atas ilmu pengetahuan itupun dibutuhkan iman, agar solusi-solusi masalah kehidupan tidak berdampak malah membahayakan kehidupan itu sendiri. 

Kasus pemalsuan daging dengan daging haram selalu berulang dari waktu ke waktu dengan pelaku yang berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain. Bisa jadi karena berita televisi yang meluas malah menjadi inspirasi bagi masyarakat yang kurang keimanan dan kurang ilmu pengetahuan, untuk malah mengambil jalan pintas mengikuti kejahatan yang disiarkan terang benderang di media televisi tersebut.

Lantas apa solusinya agar masalah seperti ini tidak terus terulang ? Penegakan hukum perlu, pendidikan keimanan sangat perlu – agar manusia tahu ada yang selalu mengawasinya – bahkan ketika orang lain tidak ada yang tahu, tetapi solusi konkrit yang langsung mengatasi masalah yang ada di masyarakat juga diperlukan.

Akar masalah pemalsuan daging adalah harga daging yang mahal, masyarakat ingin bisa makan daging tetapi daya belinya tidak sampai. Maka ketika ada daging atau produk daging yang murah, masyarakat mudah terbuai dan mengabaikan logika berfikirnya.

Jadi apa yang mestinya dilakukan ? Edukasi ke masyarakat bahwa sumber-sumber protein itu tidak harus daging. Sumber protein biji-bijian seperti kedelai yang harga rata-ratanya hanya 1/8 dari harga daging – sesungguhnya tidak kalah kwalitasnya dengan protein hewani yang mahal.

Masyarakat di negeri maju-pun merasa berat untuk bisa terus mengkonsumsi protein hewani. Untuk setiap berat protein yang sama, protein hewani membutuhkan energi dan air yang jauh lebih besar ketimbang protein nabati. Maka mereka-un berusaha ‘memalsu’ kan daging, tetapi cara yang ditempuh adalah cara yang cerdas dan legal – produknya-pun menjadi halal.

Para konglomerat mereka rame-rame mendanai riset dan pengembangan Food 2.0 , pangan jenis baru untuk menyiasati kelangkaan dan kemahalan pangan di masa yang akan datang. Salah satunya adalah apa yang disebut daging analog, makanan menyerupai daging dari sisi rasa dan teksturnya – berserat seperti daging – tetapi dibuat dari protein tanaman khususnya kedelai.

Karena harga kedelai yang rata-rata hanya 1/8 dari harga daging sapi, maka daging analog yang dibuat dari protein kedelai harganya bisa jauh lebih murah dari daging sapi aslinya. Sejauh disampaikan apa adanya ke masyarakat bahwa ‘daging’ tersebut terbuat  dari protein kedelai, maka ‘daging palsu’ yang ini perfectly legal dan juga halal.

Perlombaan untuk menghasilkan daging analog yang paling efisien dan paling mendekati aslinya inilah yang mustinya juga bisa diikuti oleh para insinyur pangan di Indonesia, karena kita memiliki semua bahan-bahan yang dibutuhkannya. Kita juga mestinya memiliki seluruh keahlian yang dibutuhkan untuk memberi solusi pangan murah berkwalitas ini bagi masyarakat luas.

Teknologi untuk membuat daging analog ini mudah dipelajari, mesinnya-pun mestinya bisa dibuat di dalam negeri. Kalau ada perajin las – bubut yang bisa membuat mesin extruder standar seperti pada ilustrasi di bawah, insyaAllah kami akan bisa mengarahkannya untuk menjadi mesin untuk membuat daging analog tersebut.


























Mesin Produksi Daging Analog

Bayangkan nantinya bila semua makanan yang aslinya berbahan daging – bisa digantikan dengan daging analog yang murah – maka masyarakat tidak lagi perlu dirisaukan dengan daging riil tetapi tidak halal seperti daging celeng dan sejenisnya.

Murah juga tidak harus rendah kwalitasnya, justru sebaliknya bisa sangat tinggi kwalitasnya. Bakso sapi asli yang Anda makan umumnya mengandung protein murni yang tidak lebih dari 20 % - inipun bila campuran dagingnya mencapai setidaknya 80 % dari seluruh bahan.

Bakso yang dibuat melalui peggantian protein daging dengan protein murni dari kedelai (Isolated Soy Protein), kandungan protein murninya bisa lebih dari 50 % atau 2.5 kali dari protein murni  yang ada  pada bakso daging sapi asli. Hal yang sama bisa dilakukan untuk produk seperti sosis dan sejenisnya.













































Kebab Ayam Dengan Daging Ayam Analog


Bahkan dalam waktu yang tidak terlalu lama, insyaAllah kita juga akan bisa memproduksi daging analog yang tidak mudah Anda bedakan dengan daging ayam, daging sapi dlsb. Solusi-solusi halal semacam ini harus dari kita sendiri datangnya, karena bila produk-produk makanan ini orang lain pula yang memproduksinya – maka mudah sekali mereka memasukkan untur-unusr yang tidak halal atau bahkan membahayakan kesehatan kita.


Makanan kita harus halal, thoyib dan murni – semua harus dari bahan yang alami, selebihnya adalah tinggal kreativitas dan kepandaian kita untuk memprosesnya – sehingga menjadi makanan yang bener-bener lezat namun juga terjangkau oleh seluas mungkin masyarakat. Agar mereka tidak terjebak dengan makanan yang tidak sehat dan tidak halal. Wa Allahu A’lam.

Pak Timin dan GDP Nasional

Posted by Unknown

Konon di tengah ekonomi Amerika yang melemah beberapa tahun lalu, satu produk dari Apple saja bisa berkontribusi mendongkrak GDP (Gross Domestic Product) negeri itu hingga 0.5 %. Ini bisa menjadi inspirasi bagi seluruh pihak yang terkait di negeri ini, bahwa GDP kita yang oleh World Bank diperkirakan tahun ini hanya tumbuh 5.2 % - sebenarnya bisa didongkrak hingga mencapai 5.7 % bila ada satu saja produk negeri ini yang istilah anak mudanya bener-bener ‘killing !’ – produk yang massif, yang dibeli/dikonsumsi begitu banyak orang.  Saya melihat peluang itu ada di kedelai ! 

Secara sederhana GDP itu dihitung berdasarkan formula berikut , GDP = C (consumption)+I(investment)+G(Government Expenditure) + (X(Export)-M(Import)). Bila selama ini kita mengkonsumsi kedelai import (GMO lagi !) sekitar 2.3 juta ton atau dalam Rupiah setara Rp 17.25 trilyun, maka dampak impor kedelai ini kira-kira setara -0.14 % dari GDP nasional – hitungan tepatnya biarlah para ilmuwan dan ekonom yang menghitungnya !

Sekarang kalau kita ubah strategi yang targetnya swasembada kedelai, pertama agar kita tidak lagi makan kedelai GMO dan yang kedua agar ekonomi tumbuh lebih baik di negeri ini - bagaimana hitungannya ?

Melalui tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya sudah berikan bukti-bukti kuat bahwa kedelai-lah sumber protein terbaik yang paling terjangkau bagi seluruh rakyat negeri ini. Selama inipun konsumsi protein terbesar kita memang sudah dari kedelai (sekitar 23 %), sementara dari hewani baru berkontribusi sekitar 14 % dari kebutuhan protein rata-rata harian kita.

Sekarang kalau kita dongkrak yang 23 % tersebut menjadi 50 % sekaligus mengganti yang impor (dan GMO !) dengan kedelai produksi lokal yang masih alami – berapa banyak kedelai dibutuhkan ?

Manusia rata-rata membutuhkan protein murni sekitar 50 gram per hari (wanita 45 gram dan laki-laki 55 gram), bila 50 %-nya hendak dicukupi dari kedelai – maka dibutuhkan 25 gram protein murni dari kedelai per hari per orang. Dengan kandungan protein kedelai yang 40 %, maka kebutuhan ini setara dengan sekitar 5.9 juta ton kedelai per tahun secara nasional.

Dengan asumsi harga Rp 10,000/kg; maka konsumsi (C) kedelai lokal tersebut akan mendongkrak GDP sekitar 59.3 trilyun atau sekitar +0.5 % dari GDP nasional kita. Bila ditambahkan dengan penghentian import kedelai yang berdampak -0.14% terhadap GDP tersebut – maka efek konsumsi kedelai lokal ini malah mencapai +0.64 %.

Pertanyaannya adalah realistiskah visi semacam ini ?, ini bisa dijawab dari berbagai sisi. Dari sisi kebutuhan jelas ada, rata-rata penduduk Indonesia yang memiliki tinggi badan 13-14 cm lebih rendah dari rata-rata penduduk dunia – adalah indikator nyata bahwa rata-rata penduduk negeri ini kurang mengkonsumsi protein secara cukup.

Dari sisi daya beli, 25 gram protein murni per hari  atau setara 63 gram kedelai per hari (karena kita hanya mentargetkan separuh kebutuhan protein dari kedelai) ini equivalent dengan Rp 625/hari. Ini terjangkau oleh penduduk paling miskin-pun di negeri ini yang berdaya beli US$ 1.25/hari, karena hanya butuh sekitar 4 % dari daya beli hariannya untuk membeli protein.

Dari sisi pengadaan kedelai lokal bagaimana ? Ini yang menarik. Untuk menggarap proyek kedelai ini saya melakukan banyak sekali perjalanan untuk mencari lahan sambil juga berguru kepada para praktisi kedelai terbaik.

Salah satu yang saya temui adalah Pak Timin (nama panggilan sebenarnya !) yang merupakan petani kedelai berprestasi tingkat nasional. Di rumahnya terpajang beberapa foto dia bersama presiden RI dalam pemerintahan sebelumnya (Pak SBY) , ada yang lagi di sawah (ketika Pak SBY berkunjung ke desanya) ada yang lagi di Istana – ketika petani kedelai berprestasi ini diundang ke Istana.

Pak Timin hanya menanam kedelai lokal  yang benihnya dipilihi sendiri, dia juga sanggup menyediakan benih kedelai lokal yang masih murni bagi siapa saja yang membutuhkannya (bisa melalui Startup Center sekarang). Lebih dari itu pak Timin juga mengajarkan best practice penanaman kedelai terbaik – karena itulah dia dianggap sebagai salah satu petani kedelai terbaik di negeri ini.

Ketika sambil berguru kepada beliau dan menanyakan – bila saya ikuti cara beliau menanam – berapa ton hasil kedelai bisa saya harapkan per hektar ? dia menjawab yang terbaiknya akan mencapai 3.5 ton, rata-ratanya di kisaran 2.5 ton.

Anggap kedelai kita akan memiliki hasil rata-rata saja yang 2.5 ton /ha, anggap pula lahan yang akan kita pakai adalah lahan tegalan (yang selama ini kurang produktif ) dengan hanya 2 kali tanam per tahun, maka kebutuhan kedelai lokal 5.9 juta ton per tahun tersebut dapat dipenuhi dari lahan yang luasnya 1.2 juta hektar saja !

Lahan 1.2 juta hektar memang kesannya sangat banyak, tetapi bila dibandingkan dengan lahan nganggur di negeri ini yang luasnya mencapai sekitar 12.8 juta hektar – kebutuhan untuk kedelai ini hanya membutuhkan kurang dari 1/10 luasan lahan yang nganggur tersebut.

Sekarang kita bisa melihat lebih jelas, bahwa dengan best practice-nya Pak Timin saja yang kita scale-up – kita akan bisa mendongkrak GDP nasional kita antara 0.5 % - 0.64%, pasti sangat banyak diluar sana Pak Timin-Pak Timin lainnya yang telah memiliki best practice di bidangnya masing-masing – yang bisa juga di scale-up untuk membantu ekonomi negeri ini.

Namun gagasan semacam ini akan tetap tinggal gagasan bila kita tidak berbuat sesuatu yang riil, itulah sebabnya Sabtu ini akan dikupas tuntas gagasan ini dalam acara Vision Sharing kita. InsyaAllah akan banyak sekali yang bisa kita lakukan untuk membantu mendongkrak GDP negeri ini, sekaligus memperbaiki kwalitas generasi mendatang – baik dari sisi jasmani maupun dari sisi ekonomi. InsyaAllah.

Biji-Biji Yang Bersayap

Posted by Unknown

Keindahan ciptaan Allah itu ada di sekitar kita, tetapi sering berlalu begitu saja bila kita tidak memperhatikannya secara serius. Salah satunya adalah ketika saya lagi mendalami seluk beluk pohon kelor (Moringa oleifera ), saya menemukan biji-biji dari pohon ini yang sangat indah – yaitu biji-biji yang bersayap. Pasti ada grand design yang besar dari Sang Maha Pencipta, mengapa biji-biji kelor ini diberi sayap oleh Allah sedang pada biji tanaman lainnya pada umumnya tidak bersayap ?



Biji bersayap buah kelor
























Bila Anda perhatikan sayapnya dalam foto di samping, Anda akan menemukan tiga sirip yang teratur rapi pas membentuk poros segitiga sama sisi. Para ilmuwan roket, kincir angin dlsb dengan susah payah memformulasikan tiga sirip ini untuk menghasilkan kinerja terbaik dalam karyanya. Kita sebenarnya diberitahu oleh Allah design terbaikNya, hanya saja kita kurang memperhatikannya apalagi memanfaatkannya.

Buah kelor bila sudah tua, polongnya akan memecah secara otomatis dan biji-bijinya berhamburan keluar – seperti kursi pilot pesawat tempur yang dalam kondisi darurat akan melontarkan dirinya keluar dari pesawat yang hancur.

Dengan sayap berupa tiga sirip yang simetris tersebut, terlempar ke arah manapun dan tertiup angin juga dari arah manapun biji-biji ini tetap stabil. Dengan sayapnya ini pula, biji-biji kelor ini akan bisa terbang dan menyebar jauh – bahkan ketika tangan-tangan manusia tidak ikut menyebarkannya sekalipun.

Pohon –pohon kelor menyebar luas di bumi Nusantara ini pada umumnya melalui penyebaran alami tersebut di atas. Di beberapa wilayah di Jawa bahkan banyak orang takut atau merasa tabu menanam pohon ini karena asosiasinya dengan sesuatu yang mistis, untuk mengusir setan dlsb. Padahal kalau toh ada yang perlu takut dengan pohon ini – mestinya hanyalah setan yang takut – karena hanya mereka yang diusir, bukan manusia !
















Buah kelor masak di pohon


Skenario apa gerangan sehingga Allah memberi sayap pada biji buah kelor ini dan pada umumnya tidak pada biji buah yang lain ? (Buah lain yang bijinya bersayap indah dan dikagumi dunia adalah mentimun Jawa – Alsomitra macrocarpa).  Wa Allahu A’lam – hanya Allah yang tahu, tetapi yang jelas ada keberkahan yang sangat banyak dengan biji-biji yang bersayap ini.

Karena biji-biji tersebut tidak jatuh di dekat pohon induknya, maka pohon kelor secara alami bisa menyebar secara luas dengan sendirinya. Dengan menyebarnya pohon yang disebut miracle tree atau tree of life ini, maka sumber-sumber makanan yang baik bagi bagi manusia juga menyebar.

Seandainya manusia pada malas menanam-pun , asal tidak merusak atau menebangnya – daun kelor kering dapat menjadi makanan dengan kadar protein yang sangat cukup (27%) dan juga karbohidrat yang memadai (38%-48%). Bahkan minyak dari biji daun kelor adalah minyak kwalitas tinggi dengan kadar Oleic acid yang  kurang lebih sama dengan minyak zaitun (60-75%).

Dalam suatu riset di University of Malaya – Kuala Lumpur, minyak dari biji kelor terbukti dapat digunakan untuk mesin diesel tanpa perlu modifikasi apapun. Jadi selain untuk makanan (food) minyak dari biji kelor juga berpotensi untuk bahan bakar (fuel) masa depan.

Hanya karena supply-nya yang masih terbatas, pada umumnya minyak dari biji kelor atau di pasaran internasional disebut Ben Oil ini – harganya sangat mahal untuk yang berkwalitas baik. Setelah diproduksi masal-pun nantinya, perkiraan saya harganya masih akan berada pada kisaran harga minyak zaitun – yaitu sekitar 10 kali dari harga minyak sawit. Jadi masih jauh dari ekonomis untuk bahan bakar itu, tetapi setidaknya kita ada bayangan bila suatu saat bener-bener krisis bahan bakar di dunia.

Dengan budidaya normal, satu hektar kebun sawit menghasilkan minyak sekitar 3.75 ton. Sedangkan satu hektar yang sama untuk kebun  kelor hasil minyaknya kurang lebih hanya sekitar 1 ton. Tetapi karena harga minyaknya yang terendah 10 kali lipat minyak sawit tersebut di atas, maka dari sisi pendapatan kebun kelor akan berkisar 2.67 kali kebun sawit per hektarnya.

Masih ada dua peluang untuk meningkatkan lebih jauh pendapatan petani yang menanam pohon kelor yaitu yang pertama dari sisi daunnya – untuk bahan herbal maupun  bahan makanan/suplemen bergizi tinggi. Pendapatan dari daun ini bahkan bisa lebih tinggi dari bijinya !

Kedua adalah kemungkinan untuk ditanam secara super intensif – menjadi kebun-kebun yang rindang – yang petunjukanya ada di surat ‘Abasa ayat 28 dan 30. Dengan metode ini hasil panen berupa daun maupun biji bisa jauh lebih besar dari yang ada selama ini.

Maka dengan biji-biji yang bersayap ini insyaAllah kita bisa terbang jauh, mengatasi problem pangan, gizi, kesehatan, bahan bakar dan bahkan juga problem ekonomi secara umum. InsyaAllah.

Revolusi Pangan

Posted by Unknown

Bila negeri yang paling kaya biodiversity, mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun dan hampir seluruh wilayahnya mendapatkan hujan  ini hingga kini belum ada tanda-tanda akan bisa mencukupi pangannya sendiri – pasti ada sesuatu yang seriously wrong dalam pengelolaan pangan kita. Yang saya lihat salah satunya adalah salah memilih guru. Selama ini kita berusaha bertani mengikuti cara barat, yang mereka sendiri ternyata baru menyadari kekeliruan mendasarnya – bahwa pertanian mereka ternyata tidak sustainable !


Ibarat mobil tua yang sudah harus segera dimusiumkan, cara bertani barat – yang berusaha kita  ikuti itu – sudah sangat tidak efisien sehingga tidak sustainable. Bila dipaksakan jalan terus akan menimbulkan berbagai masalah demi masalah dan berujung pada tidak tercukupinya kebutuhan pangan bagi masyarakat dunia – yang seharusnya terjamin kecukupannya bila saja dikelola dengan benar.

Ada setidaknya lima inefisiensi yang saya pahami dari cara mereka bertani selama ini, yang saya maksud bertani adalah bertani dalam arti luas – termasuk peternakan, perikanan, agroforestry dlsb. Inefisiensi ini terjadi pada penggunaan energi, penggunaan air, penggunaan lahan, penggunaan pupuk dan dampaknya pada lingkungan.

Inefisiensi dalam penggunaan energi terjadi mulai dari produksi bahan pangan di lahan pertanian (on farm), transportasi, processing sampai penyimpanannya. Ambil contohnya adalah mie instant atau roti yang kita makan.

Gandumnya ditanam dengan energi besar traktor-traktor pertanian, disimpan hasilnya di gudang kemudian dikirim menempuh perjalanan lebih dari separuh bumi, sebelum akhirnya masuk ke pabrik pengolahan tepung di Indonesia, kemudian masih satu kali lagi masuk pabrik roti atau pabrik mie – sebelum dikirim dan sampai ke piring kita. Bisa dibayangkan energi yang dibutuhkan untuk ini.

Daging impor kurang lebih juga menempuh jalan panjang semacam ini sebelum sampai ke kita. Bahkan untuk produksi dagingnya di negeri asal mereka sendiri, setiap 1 kcal protein hewani dibutuhakn 28 kcal energi fosil untuk memproduksinya. Kebutuhan energi untuk produksi daging ini kurang lebih 8 kali dari yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 kcal protein nabati.

Pilihan menu makanan yang berat di daging juga berdampak pada penggunaan air. Untuk memproduksi daging 1 kg dibutuhkan tidak kurang dari 40 m3 air, sementara pembandingnya untuk memproduksi 1 kg bahan makan nabati dibutuhkan air rata-rata kurang dari 2 m3.

Dampak berikutnya adalah pada penggunaan lahan, untuk memproduksi 1 kcal energi dari bahan daging sapi misalnya dibutuhkan rata-rata lahan seluas 31 m2 - untuk memproduksi pakan serta memeliharanya. Sementara untuk memproduksi 1 kcal yang sama dari buah dan sayur, kebutuhan lahan rata-ratanya kurang dari 2 m2 – inipun sebelum menggunakan konsep kebun-kebun yang rindang seperti yang saya tulis dalam ‘Daun Swasembada’.

Agar pakan ternak tersebut terus bisa diproduksi dari hijauan dan biji-bijian, mereka melakukan kesalahan berikutnya yaitu bertani dengan bergantung pada pupuk-pupuk kimia yang semakin banyak. Ibarat orang berbohong yang akan cenderung terus berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya, demikian pula dalam hal kesalahan bertani ini. Awalnya salah memilih makanan, berdampak pada pemborosan energi, pemborosan air dan pupuk – dan akhirnya harus ditutup dengan dampak ekonomi dan lingkungan yang ditimbulkan oleh kesalahan awal.

Dari sisi ekonomi biaya makanan menjadi sangat mahal dan dari sisi lingkungan lahan-lahan pertanian menjadi sakit seperti sakitnya orang yang kecanduan – bila tidak diberi obat (pupuk) dia tidak berproduksi maksimal, bila diberi pupuk (lagi) dia semakin rusak/kecanduan dalam jangka panjang. Efek spiralnya bahan makanan menjadi semakin langka dan tentu saja menjadi semakin mahal.

Kesalahan-kesalahan ini bukannya tidak mereka sadari, di dunia barat sendiri sekarang berkembang trend peralihan pola makan ke arah yang mereka sebut Plant-Based Diet – pola makan berbasis tanaman. Inipun suatu kesalahan karena tidak semua kebutuhan tubuh kita bisa di-supply oleh makanan dari tanaman secara menyeluruh – kita tetap butuh makan daging secara proporsional.

Maka disinilah letaknya perbedaan kita dengan mereka, dalam hal memilih makanan dan memproduksi bahannya-pun kita berbeda. Kita memiliki kitab yang menunjuki kita ke jalanNya, kitab itu memberi penjelasan detil untuk setiap kebutuhan kita – dan kitab itu membuat kita memang berbeda dengan mereka. (QS 2:185)

Maka bila kita mengikuti kitab ini dalam setiap aktivitas kehidupan kita, pasti terjadi perubahan besar dan cepat – yang dalam bahasa populernya sering disebut revolusi. Lantas di dunia makanan ini dimana revolusinya ?

Disinilah peluangnya ! bila kita bisa me-revolusi pangan kita, bukan hanya kita akan menjadi negeri yang swasembada pangan – tetapi insyaAllah kita bisa menjadi pemain industri pertanian yang sangat efisien sehingga bisa menolong negeri-negeri lain yang membutuhkannya. Kita bisa menjadi solusi bagi pangan dunia dan bukan malah menjadi salah satu problemnya.

Lantas darimana kita mulai revolusi pangan ini ? Kita bisa mulai mengambil pelajaran dari kegagalan pengelolaan pangan dunia seperti gambaran tersebut di atas - agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Bahan makanan kita seimbang, tidak tergantung berlebihan pada daging – tetapi juga tidak sampai ekstrim sehingga tidak makan daging sama sekali.

Secara lengkap bahan makanan kita di-guide melalui petunjukNya di surat ‘Abasa ayat 24-32 yang terdiri dari biji-bijian secukupnya,  buah-buahan dari berbagai jenis buah yang banyak, sayur-sayuran dari dedaunan yang hijau, dan tentu juga daging dari ternak kita.

Untuk kebutuhan daging ini utamanya dari ternak besar, kemudian yang kedua dari jenis ikan dan yang terakhir dari jenis unnggas. Ternak besar utamanya adalah yang digembala dan urutan prioritasnya mulai dari domba, kambing dan baru yang terakhir sapi – karena kita tidak memiliki unta (QS 6:143-144).

Karena kita makan biji-bijian secukupnya – tidak terlalu bergantung padanya juga, maka kebutuhan sawah atau lahan subur juga tidak terlalu besar. Lahan subur khususnya sawah butuh air yang banyak, maka kita kurangi ketergantungan pada jenis makanan yang membutuhkan lahan semacam ini.

Sebaliknya pohon buah-buahan dan juga dedaunan hijau tidak harus dihasilkan dari lahan subur yang banyak airnya, lahan tegalan yang marginal-pun cukup dan bisa menghasikan buah serta hijauan yang optimal.

Karena untuk menghasilkan 1 kcal dari protein nabati hanya dibutuhkan  1/8 dari kebutuhan energi untuk protein hewani, kebutuhan airnya hanya 1/20 dan kebutuhan lahannya hanya 1/15 – maka menggeser sebagian besar kebutuhan protein ke nabati akan menjadikan penggunaan energi, air dan lahan menjadi sangat efisien.

Kita masih makan daging yang juga kita produksi secara efisien karena makannya adalah rumput sambil menyuburkan lahan-lahan kebun buah kita tersebut (QS 16 : 10-11). Namun bila karena satu dan lain hal kita belum bisa makan daging yang cukup, makanan dedaunan bergizi tinggi-pun dapat mengimbangi kebutuhan protein dari daging ini.


Tepung Daun Kelor Dengan 26.3 % Protein




























Foto disamping misalnya, adalah contoh tepung dari daun kelor (Moringa oleifera) yang kemarin dihadiahkan ke saya oleh mitra baru kita. Sepenuhnya sudah diproduksi dalam negeri dengan kwalitas yang sangat-sangat baik, hasil uji labnya menunjukkan kandungan protein 26.3 % dan ini kurang lebih sama dengan kandungan protein yang ada di daging sapi pada umumnya.

Yang masih harus diatasi dari protein berbasis daun bergizi tinggi tersebut adalah produksinya. Dengan tingkat produksi yang ada sekarang memang jadinya masih mahal – dan baru ekonomis untuk dijadikan bahan obat herbal. Tetapi segera setelah kita memproduksinya secara TSM (Terstruktur, Sistematis dan Masif) dengan teknik seperti yang saya tulis dalam ‘Daun Swasembada’ – maka insyaAllah akan segera menjadi murah dan available secara luas.

Proporsi makanan yang berat di nabati inipun tidak harus membuat kita tergantung pada pupuk kimia. Semua sumber pupuk dan obat-obatan pertanian bisa digantikan dengan limbah peternakan maupun sisa hasil pertanian kita sendiri.

Unsur-unsur makro yang dibutuhakn oleh seluruh tanaman seperti N, P dan K tersedia cukup pada kotoran ternak – khususnya kencing domba. Unsur NPK ini juga dapat dihasilkan secara cukup dari ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) dan juga dari kulit pisang, sehingga kita bisa bener-bener bertani tanpa harus melibatkan bahan kimia.

Bahkan untuk obat penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur, bakteri dan bahkan virus semuanya juga bisa dibuat dari ekstrak daun zaitun yang memang bersifat antifungal, antibacterial dan antiviral. Jadi dari dua daun saja – yaitu daun zaitun dan daun kelor – kita sudah bisa memproduksi pupuk dan juga obat yang cukup bagi tanaman-tanaman kita.

Setelah komposisi makanan kita sudah jelas, tinggal bagaimana kita memproduksinya dengan se efisien mungkin. Dengan lahan yang terbatas, dengan air yang sedikit dan nyaris tanpa energi-pun kita harus bisa menanam dan menghasilkan bahan makanan yang banyak – untuk memberi makan bagi milyaran penduduk dunia yang membutuhkannya.

Bagaimana dengan yang serba sedikit tersebut (lahan, air dan energi)  bisa terus tersedia bahan makanan yang cukup bagi manusia yang terus bertambahan banyak ? Inilah jawaban yang tidak sepenuhnya harus bisa dijelaskan dengan ilmu manusia – inilah yang disebut berkah.

Keberkahan hanya bisa hadir dengan keimanan dan ketakwaan, demikian pula jaminan kecukupan rezeki dari bawah kaki kita dan dari atas kita hanya terjadi bila kita mengikuti petunjuk di kitabNya.

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS 7:96)

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan(mendirikan/menegakkan) Taurat, Injil dan (Al Qur'an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.” (QS 5 :66)

Dengan berkahNya kita bisa menanam pohon atau tanaman yang sangat rindang /padat (QS 80:30) di tanah yang sempit sekalipun, tanaman kita bukan menyerap air tetapi malah memancarkan mata air (QS 36:34), bukan menghabiskan energi malah menghasilkan energi (QS 36:80 ; QS 56 :71-72 dan QS 24:35), tanaman-tanaman kita menghasilkan makanan yang cukup bagi seluruh penduduk negeri tanpa ada yang merusak lingkungan – malah sebaliknya menjadikan negeri kita negeri yang baik dan indah dan Allah-pun mengampuni dosa-dosa kita (QS 34:15). Inilah revolusi yang layak untuk kita perjuangkan bersama. InsyaAllah.

Daun Swasembada

Posted by Unknown

Setelah 69 tahun merdeka dan 7 presiden silih berganti, belum nampak tanda-tanda negeri ini akan swasembada pangan. Bahkan seperti yang pernah saya tulis sebelumnya “Red Alert : Darurat Pangan” kecenderungan ketergantungan terhadap produk impor itu nampak semakin tinggi. Bisa jadi karena selama ini kita mencari jawaban di tempat yang salah atau setidaknya belum meng-eksplorasi peluang yang ada secara menyeluruh. Kita terlalu fokus pada biji-bijian yang ditanam dengan susah payah – lupa ada potensi daun yang bisa jadi lebih mudah ! 

Menanam padi yang menjadi unggulan bahan pangan kita misalnya, tetap harus dilakukan. Hanya saja tidak bisa diharapkan pertumbuhannya akan mengejar kebutuhan yang ada. Mencetak sawah adalah sejuta masalah – dan negeri ini sudah pernah mencobanya di era Orde Baru, kita tidak perlu mengulangi kesalahan yang sama.

Lantas dari mana sumber makanan kita untuk mengejar dan mengatasi darurat pangan tersebut di atas ? Pertama dan awalnya kita harus kembali kepada petunjukNya, agar kita tidak tersesat dengan trial and error lagi seperti yang sudah-sudah.

Petunjuknya tentang sumber-sumber makanan kita itu amat sangat jelas, dan kita disuruh langsung olehNya untuk memperhatikan makanan kita ini : “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (QS 80:24). Mari sekarang kita pelototi sumber-sumber makanan kita berdasarkan petunjukNya ini.

Untuk bisa melihat potensinya secara menyeluruh, saya pelototi ayat-ayat makanan ini dengan membaca Al-Qur’an dan tiga versi terjemahannya (Departemen Agama, Yusuf Ali, Dr. Muhammad Taqi-ud-Din Al-Hilali/Dr. Muhammad Muhsin Khan), juga tiga versi tafsirnya (Ibn Kathir, Tafsiir Al-Jalaalayn dan Tafhim Al-Qur’annya Sayyid Abul Ala Maududi).

Kemudian bila ada perbedaan dari masing-masing penterjemah atau penafsir, semuanya saya anggap benar karena mereka adalah orang-orang yang sangat mengusai ilmunya. Perbedaan-perbedaan yang ada justru memperkaya sudut pandang kita dengan perspektif yang berbeda.

Hasilnya lima kelompok makanan yang kita disuruh untuk memperhatikan di dalam surat ‘Abasa ayat 24-32 saya sajikan ulang dengan menaruh di dalam kurung bila ada terjemahan/tafsir yang berbeda sebagi berikut :

1.     Lalu disana Kami tumbuhkan biji-bijian (QS 80:27)
2.     Dan anggur dan sayur-sayuran (hijauan pakan ternak, tanaman bergizi tinggi) (QS 80:28)
3.     Dan zaitun dan pohon kurma (QS 80:29)
4.     Dan kebun-kebun yang rindang (padat dengan pohon yang banyak, tertutup/padat dengan pohon dan dedaunan, segala tanaman yang dikukumpulkan) (QS 80:30)
5.     Dan buah-buahan dan rerumputan (QS 80:31)


Rangkaian lima kelompok makanan tersebut ditutup dengan “(Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu” (QS 80:32) – yang juga menghasilkan sumber makanan berikutnya yaitu bahan makanan yang berasal dari hewan ternak.

Sekarang mari kita lihat lebih detil mana di antara sumber makanan yang sudah kita garap dan mana yang belum.

Nomor 1 yaitu biji-bijian seperti beras, jagung, gandum dlsb. secara umum sudah kita garap dan menjadi bahan makanan utama kita selama ini. Tingkat produksinya di dalam negeri mungkin sudah tidak banyak lagi bisa ditingkatkan, pertama karena lahannya terus berkurang – kedua juga tingkat produksi per satuan luas juga belum nampak adanya peningkatan yang massif, yang nampak malah penurunan.

Nomor 2 anggur relative belum kita garap meskipun sudah ada risetnya sejak jaman Belanda untuk jenis anggur yang kemungkinan cocok untuk mayoritas tanah kita – yaitu anggur dataran rendah. Sayur-sayuran, hijauan pakan ternak apalagi tanaman bergizi tinggi – nyaris belum kita eksplorasi peluangnya.

Nomor 3 zaitun dan kurma juga belum  banyak yang menggarapnya. Melalui situs ini saja baru saya perkenalkan dalam dua tahun terakhir, sejak saat itu ribuan kurma dan zaitun Alhamdulillah berhasil kita tanam – tetapi untuk skala nasional tentu belum ada apa-apanya.

Nomor 4 kebun-kebun yang rindang juga baru digarap secara sektoral seperti sawit, karet, tebu, kopi, teh, cengkeh – yang secara keseluruhan belum memberi solusi swasembada pangan bagi negeri ini – karena memang bukan dimaksudkan untuk kesana.

Nomor 5 buah-buahan kita juga nampak belum serius menggarapnya dengan bukti semakin meningkatnya impor buah kita seperti dalam tulisan saya sebelumnya di atas. Melalui project iGrow (www.igrow.asia) kita mulai menggarap antara lain buah secara komersial di tanah yang luas – tetapi ini juga baru permulaan. Rerumputan nyaris belum menjadi perhatian kita sama sekali.

Dampak dari belum seriusnya kita menggarap hijauan pakan ternak dan rerumputan juga pada terganggunya kemampuan kita dalam memenuhi kebutuhan pangan dari sumber hewani. Sehingga rangkaian ayat yang ditutup dengan “…kenikmatan bagimu dan hewan ternakmu...” ini belum bisa bener-bener kita nikmati, apalagi ternak kita.

Kita sudah menanam padi, mulai menanam zaitun dan kurma, mulai menanam buah-buahan dan bahkan mulai menggembalakan domba – tetapi rasanya ini belum cukup dan masih ada yang perlu kita pelototi lagi ayat-ayat tersebut di atas.

Maka kali ini saya fokuskan pada nomor 2 dan 4 yang saya cetak tebal dalam rangkaian ayat-ayat tersebut di atas. Bila kita rangkai ayat 28 dan 30, kita akan ketemu metode baru dalam bercocok tanam untuk jenis tanaman yang menghasilkan hijauan (daun) bergizi tinggi – yaitu ditanam dalam bentuk pohon-pohon yang sangat padat dan rindang.

Bila saya ungkapkan dalam satu kalimat kurang lebih akan seperti ini pengungkapannya :

“…dedaunan sayuran/pakan ternak bergizi tinggi yang berasal dari kebun/pohon yang ditanam secara padat/rindang…”

Setelah kita memformulasikan parameter dari sumber pangan dan pakan andalan tersebut, kita tinggal mencari jenis tanaman apa yang kiranya bisa kita kelola sehingga sesuai dengan parameter tersebut. Jenis tanamannya sendiri saya tidak menemukan tanaman spesifik yang disebut di dua ayat tersebut di atas – artinya bisa tanaman apa saja disekitar kita yang menghasilkan gizi yang tinggi.


Penanaman Kelor Dengan Super Intensif









































Maka saya ambilkan dari tanaman kelor atau Moringa oleifera yang sudah saya bahas dalam tulisan saya sebelumnya. Apakah kelor bisa dijadikan tanaman yang padat dan rindang ?, sangat bisa ! – lihat foto disamping. Dalam foto tersebut kelor dtitanam dengan sangat padat di areal luasan yang sangat sempit.

Dalam ukuran tanah kurang lebih 4 m2, penanaman kelor yang sangat padat ini menghasilkan bahan makanan sekitar 90 kg per 2 bulan atau 540 kg per tahun. Bila Anda punya tanah 1 ha, ditanam dengan pola ini dan asumsinya yang 30 % untuk jalan dan sarananya, maka per ha luas tanah Anda hasilnya 945 ton daun kelor basah !

Daun kelor basah mengandung air sekitar 75 %, bila dikeringkan secara maksimal akan menyisakan kandungan air sekitar 5 %. Beratnya akan berkurang sekitar 70 %, sehingga hasil akhirnya adalah daun kelor kering dengan berat 284 ton/ha/th.

Bagaimana dengan kandungan gizinya ?, daun kelor kering mengandung protein sekitar 27 % dan karbohidrat sekitar 38 %. Tahukah Anda bahan makanan kita yang proteinnya setara dengan protein daun kelor kering ini ? Itulah daging  sapi !

Artinya dalam hal sumber protein, satu hektar tanaman kelor yang ditanam sedemikian rupa menjadi kebun yang sangat padat/rindang seperti pada gambar tersebut di atas, dapat menghasilkan bahan pangan yang nilai proteinnya setara dengan 284 ton daging sapi per tahun. Padahal untuk menghasilkan 284 ton daging sapi ini diperlukan 1,420 ekor sapi ukuran sedang dengan berat rata-rata 500 kg !.


Makanan Lezat Berbahan baku Tepung Daun Kelor








































Lantas untuk apa bahan makanan dari daun kelor ini ? bagaimana memasaknya ?, bagaimana rasanya dlsb ? Ini hanya masalah selera dan ketrampilan ibu-ibu di dapur, bagaimana membuat bahan makanan yang lezat dan bergizi tinggi yang berbahan baku daun kelor tersebut.

Saat ini team Agroforestry Apprenticeship Program (AAP) kita sedang bekerja keras untuk mencoba mewujudkan konsep ini, bagi Anda yang tertarik untuk bergabung atau membantu dengan bibit, teknik pengolahan/pengeringan dlsb. silahkan menghubungi kami.

Memang saat ini masih ada sedikit masalah yang harus kami pecahkan, yaitu masalah ketersediaan bibit baik berupa biji maupun berupa stek batang dalam jumlah yang massif.

Kemudian juga ada challenge tersendiri yang kami tangani dengan senang hati yaitu  teknologi pengolahannya. Daun kelor karena proteinnya yang tinggi menjadi mudah busuk – bila tidak segera diolah setalah diambil dari pohonnya, dengan pengeringan standar yang melibatkan panas juga akan menghilangkan sebagian dari nutrisi yang ada.

Maka pengolahan/pengeringannya harus dalam kondisi segar, cepat dan tidak melibatkan panas. Baru setelah menjadi bubuk/tepung daun kelor,  Anda bisa olah menjadi apa saja seperti antara lain dalam foto di atas. Daun kelor juga insyaAllah bisa diekstrak – diambil sari pati-nya untuk bahan obat, untuk yang terakhir ini Alhamdulillah justru kami sudah punya teknologinya.

Tertarik untuk eksplorasi potensi daun kelor ? silahkan bergabung untuk revolusi bahan pangan yang satu ini, revolusi daun kelor yang ditanam dengan mengikuti petunjukNya. InsyaAllah.

Dunia Luas Dengan Daun Kelor

Posted by Unknown

Dalam pepatah ‘dunia tidak sesempit daun kelor’ – daun kelor diartikan sebagai sesuatu yang sempit atau kecil. Tidak banyak yang tahu bahwa arti (manfaat) harfiah daun kelor sesungguhnya sangat luas. Badan dunia WHO bahkan sudah 40 tahun terakhir menggunakan daun kelor ini untuk mengatasi malnutrisi pada anak-anak di negeri yang mengalami krisis pangan. Daun kelor insyaAllah bisa menjadi salah satu unggulan Indonesia di pasar MEA, bahkan pasar global nantinya. How ? 

Di dunia pesantren saya waktu kecil, Pak Kyai suka mengobati orang dengan daun kelor ini. Baik penyakit yang sifatnya fisik seperti luka dan korengan, sampai penyakit non fisik seperti gangguan setan. Pak Kyai pasti tidak sembarang mengobati, beliau punya dasar.

Mengenai daun kelor atau minyak dari buah kelor untuk mengusir setan  misalnya – ada di kitab Tibb al-A’immah, saya tidak mengenal siapa penulisnya. Yang lebih kuat dari ini adalah kitab Ath_Tibbun Nabawi-nya  Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Dalam kitab yang terakhir ini yang disebut adalah minyak minyak Baan atau minyak ben, digunakan bila minyak yang terbaik yaitu minyak zaitun tidak tersedia.


Pohon, daun dan buah kelor
































Minyak ben (ben oil) dalam Encyclopedia of Islamic Herbal Medicine dihasilkan dari tanaman yang nama latinnya Moringa oleifera atau dalam bahasa kita dikenal sebagai pohon kelor (Jawa, Sunda, Bali dan Lampung), kerol (Buru), Maronggih (Madura), drumstick , miracle tree, magic tree, tree of life, the tree of paradise, mother best tree (Inggris), kalor, marunggai dan sajian (Melayu).

Meskipun seluruh pohon kelor mulai dari akar, pohon , daun dan buah-nya bermanfaat, daun dan buahnya yang sangat berpotensi untuk digarap secara serius menjadi unggulan komoditi kita. Kelor memang bisa tumbuh di seluruh dunia, tetapi habitat terbaiknya adalah negeri panas tropis – dan itu berarti Indonesia banget.

Daunnya memiliki nutrisi yang sangat lengkap, daun basahnya saja mengandung karbohidrat 12.5 %,  protein sampai hampir 7 % disamping kaya dengan vitamin A,  B1, B2, C, Calcium, Kalium dan berbagai mineral lainnya. Dalam kondisi kering, daun kelor memiliki kandungan protein sampai 27 %, tidak heran WHO menjadikan daun kelor ini untuk mengatasi malnutrisi di sejumlah negara.

Sekedar menunjukkan perbandingannya, dengan berat yang sama vitamin C yang ada di daun kelor segar 7 kali lebih banyak dari yang ada pada jeruk,  Vitamin A-nya 4 kali dari yang ada di wortel, Calciumnya 4 kali dari yang ada di susu, Kaliumnya  3 kali dari yang ada di pisang, dan proteinnya 2 kali dari yang ada di yoghurt. Bisa dibayangkan dasyatnya nutrisi yang ada  didalamnya bila kita buat ekstrak segar daun kelor !

Khasiat daunnya terhadap upaya penyembuhan penyakit juga sudah sangat banyak diriset di berbagai negara, antara lain bersifat antimicrobial, antiinflammatory, antioxidant, menurunkan tekanan darah, menurunkan kolesterol jahat, menurunkan gula darah, melindungi hati, antitumor, melancarkan darah dan kerja jantung.

Sebagaimana Ibnu Qayyim dalam kitab tersebut menyandingkan minyak terbaik yaitu minyak zaitun dengan minyak ben atau minyak kelor ini, maka kurang lebih seperti inipula kita menyandingkan produk unggulan kita zaitun dengan potensi unggulan lokal yaitu kelor.

Hubungan zaitun dan kelor itu seperti negeri Syam dan negeri kita Indonesia. Bahwa pohon zaitun diberkahi oleh Allah itu sudah pasti ( QS 24:35) demikian pula dengan negeri Syam (QS 17:1), kita di Indonesia juga bisa diberkahi tetapi bersyarat – yaitu bila penduduknya beriman dan bertakwa (QS 7 : 96).

Maka demikianlah pohon kelor yang kita gunakan sebagai makanan suplemen dan sarana pengobatan, insyaAllah bisa mendatangkan keberkahan bila kita penuhi syaratnya – yaitu menggunakannya dengan keimanan dan ketakwaan kita. Yang paling sederhana ya kita tidak meyakini bahwa kelor ini yang menyembuhkan – hanya Allah-lah yang menyembuhkan (QS 26:80), sedangkan kelor hanyalah salah satu sarana saja.

Meskipun hanya sebagai salah satu sarana penyembuhan, secara ekonomi kita punya peluang terbaik dibandingkan dengan negeri-negeri lain. Masyarakat kita sudah sangat mengenal kelor ini – sampai ada pepatah ‘dunia tidak sesempit daun kelor ‘ tersebut di atas.

Kelor mudah ditanam, bahkan cabang yang ditancapkan untuk pagar-pun bisa tumbuh. Artinya bila kita belum bisa memproduksi zaitun dalam jumlah besar, second best-nya kita punya kelor yang siap dikembangkan secara terstruktur, massif dan massal (TSM). Baik untuk pengobatan maupun untuk makanan suplemen pendongkrak gizi seperti yang dilakukan oleh WHO tersebut di atas.

Lebih-lebih Alhamdulillah kita juga sudah diberi ilmu olehNya untuk mengolah daun kelor ini, yaitu dengan ilmu yang sama yang kita gunakan untuk mengolah daun zaitun dengan teknologi CWFE-CHD (Cold Water Fresh Extraction with Controlled Humidity Drying).

Dengan teknologi ini, nutrisi yang ada di daun kelor hasil ekstraksi akan secara maksimal dipertahankan, terjamin kehalalannya karena proses ekstraksi hanya menggunakan air dingin. Dengan teknologi ini secara harfiah kita bisa makan pagar yang bergizi tinggi !

Dunia butuh sumber-sumber gizi baru, butuh obat yang aman dan khusus umat muslim juga harus terjamin kehalalannya – salah satunya sudah ada di sekitar kita, yang kita lakukan tinggal mensyukurinya dengan memanfaatkannya untuk kepentingan umat manusia seluruhnya.

Sayangnya, sudah 30 tahun lebih saya meninggalkan pesantren kecil di desa – dimana pohon kelor ada di pekarangan kita, bagi para pembaca yang mau beramal shaleh dengan membantu saya menemukan kembali bibit-bibit kelor khususnya stek batang – agar cepat bisa kita budidayakan – saya akan sangat berterima kasih.

Atau kalau tidak , di desa Anda mungkin sudah banyak tanaman ini – bisa mulai kita data dan kumpulkan potensi produksinya, kita bangun jaringan pemasarannya – insyaAllah bisa menjadi komoditi unggulan baru bagi kita semua.

Bila zaitun produksinya sudah dikuasai Eropa - nama ilmiahnya-pun disebut Olea europaea, sulit kita mengejar keunggulan Spanyol, Italia, Yunani dlsb. Yang sedang kita upayakan hanyalah insyaAllah unggul di tingkat Asia, maka kita perkenalkan visi Olea.Asia.

Namun tidak demikian dengan kelor, sejauh ini belum ada satupun negeri yang bisa meng-klaim unggul di bidang produksi kelor. Kitalah yang berpeluang terbaik untuk itu, selain buminya sudah cocok – juga tidak perlu lahan pertanian baru untuk ini.

Cukup kita mengganti pagar-pagar beton ataupun pagar tanaman yang belum kita tahu manfaatnya, dengan pagar yang lebih indah, lebih alami dan lebih bermanfaat, yaitu dengan batang-batang pohon kelor. Berbeda dengan pepatah yang sudah mendarah daging tersebut, bagi kita dunia bisa menjadi lebih luas (berkah) dengan daun kelor, InsyaAllah.

free counters